Rabu, 17 Desember 2014

Kembali

Tuan tahu benar akan itu,
ketika kakiku telah lelah untuk mengejar,
Aku hanya duduk manis
menatap punggung kian menghilang
Aku di sini, 
duduk,
tidak untuk menunggu,
tidak juga untuk mencari.
Kalau tuan kembali,
apakah kursi di sebelahku masih kosong?

BR

picture: wallvan.com

Jumat, 31 Oktober 2014

About Me

Aku gak ada maksud mau pamer atau apapun. Kutulis ini sebagai hasil intropeksi diri sama pendapat teman- temanku dulu.

1.       Tenang
Mau ada masalah sebesar apapun, aku orangnya tetap tenang- tenang saja, sekalipun ekspresiku terlihat jelas betapa paniknya saat itu. Bagiku, kalo aku punya masalah besar, maka aku punya Allah yang lebih besar memahami dari masalah itu.

2.       Sedikit sahabat,  tetapi banyak teman
Aku berteman dengan siapa saja (selama ia membawa sisi positif). sahabat yang cerdas, alim, suka bercanda dsb. sahabat yang bisa diajak  belajar, bercerita, ibadah, jalan, bercanda, dsb. Tapi harus kuakui, aku memang agak susah mendapatkan sahabat, yang bersedia memahamiku dalam keadaan apapun. Dan bersedia juga untuk kupahami.

Dari aku kecil hingga sma, aku punya empat sahabat :
-          Sahabat masa kecilku (perempuan), udah 12 tahun kita berteman. Kita satu sekolah terus dari sd sampai sma. Aku yang dulu sangat nakal dan dia yang mudah sensi akibat ulahku. Mau sengambek apapun dia dan senakal apapun aku, pada akhirnya kita tumbuh menjadi sahabat yang saling mengerti.
-          Sahabat smp (laki- laki). Jangan kaget kalo aku punya sahabat laki- laki. Kita sekelas 2 tahun. Bermula dari kita yang hobi bersaing di dalam kelas justru menjadikan kita sebagai sahabat.Waktu smp, aku pernah sakit sampai seminggu lebih. Teman- temanku, termasuk sahabatku datang ke rumah. Saat aku telah sembuh, salah satu temanku bercerita,”aku nanya sama R karena aku tahu kalian adalah sahabat akrab. Aku tanya ‘Kamu ikut kerumah Berta? Dia udah lama gak ke sekolah.’ Dan R menjawab ‘Tentu saja aku ikut. Dia sahabatku.’ “
Bingung mau ngomong apa. Pokoknya aku terharu.  Sampai sekarang kita masih kontakan. Sekarang dia kuliah sambil kerja di Kepulauan Riau. Dan dari status socmednya, sepertinya ada wanita yang sedang ditaksirnya di Kepri. :D
-          Sahabat sma (2 perempuan)
Mereka ada karena perjuangan. Mereka ada dikala suka dan duka, saling menasihati kalo salah, saling curhat, pokoknya saling berbagi. Bahkan keluarga kita masing- masing udah saling kenal. Setiap pulang ke Palembang, mereka antusias ngajakin aku jalan- jalan.

Dimasa kuliah? Semoga aku mendapatkanmu Dan untuk teman- teman beserta sahabat- sahabatku, tetap berteman sampai kapanpun dan dimanapun ya
J

3.       Sering dinilai berbeda
Bingung juga dengan yang ini. Untuk yang belum kenal denganku, mereka bilang aku cuek, pendiam. Tapi kalo yang udah mengenalku dengan baik, mereka bilang aku usil, mudah bercanda. Semuanya bener kok. Karena sifatku yang gak pandai basa basi, hati- hati dalam berbicara, dan butuh waktu untuk memahami karakter mereka terlebih dahulu menjadikan mereka menilaiku seperti pendapat pertama tadi.
Mereka yang mengenalku dengan baik sudah memahami karakterku ini. Makanya kalo aku sedikit ngomong, mereka ngajak ngomong  lagi sehingga aku jadi terpancing untuk ngomong lebih banyak.

4.       Dirumah, saya lebih banyak bercerita dan suka usil
Dari kecil, aku selalu diusilin oleh kakak- kakakku sehingga akupun juga ikut ikutan ngusilin mereka. (Kangen juga dengan masa- masa itu. Mereka sekarang udah bekerja dan berkeluarga).
Dan aku suka bercerita dengan kakak- kakakku dan orangtuaku, terutama mama. Khusus cerita sama mama, mau tahu orang yang kusuka, mama-lah yang  tahu akan rahasiaku :D

5.       Suka Jalan- Jalan
Siapa dong yang gak suka. Sekali diajak jalan, langsung mau. Kecuali kalo lagi sibuk atau pengen ngendep di rumah aja.

6.       Suka berorganisasi
Bener banget! Dari kecil udah dibiasain. Suka ikut acara organisasi, tampil dimana- mana, suka ikut lomba. Dan sampai sekarang pun aku tetap memiliki organisasi. Tetapi…..

7.       Butuh Me Time lebih banyak
Yep. Mau seberapa sibuknya sekolah, kuliah (apalagi) dan organisasi, serta sering jalan jalan, aku tetap butuh lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Jalan- jalan sendiri (kalaupun gak sendiri banget, paling ditemani satu atau dua orang), ke toko buku, duduk- duduk di beranda atas rumah sambil menikmati pemandangan (apalagi senja), menulis dan main pianika. Hal itu kulakukan untuk ngisi ulang energi yang terkuras seharian.

8.       Maniak novel
Kalo udah ke toko buku, apalagi nemu deretan novel, duh… rasanya pengen dibeli terus dibaca sesegera mungkin. Novel apa saja. Yang paling kusuka sih novel misteri (kearah detektif gitu).

9.       Suka seni
-          Musik
Dari kecil aku udah dikenalin alat musik harmonika, piano, dan suling. Sampai sekarang, aku punya alat musik pianika. Alat musik yang kusebutin sebelumnya udah rusak.
-          Suara
Suka nyanyi. Orang yang udah kenal denganku pasti udah tahu kalo aku suka keceplos nyanyi sendiri  kalo kita lagi gak ada bahan obrolan.
-          Sastra
Suka menulis dan suka baca puisi. Kalo pelajaran bahasa Indonesia tentang mengarang dan baca puisi, aku paling menantikannya :D
Diantara itu semua, aku paling suka menulis. Dengan menulis, aku bisa jadi bercerita lebih banyak.

10.   Gak suka selfie foto sendiri
Foto bareng keluarga dan teman sih suka. Kalo foto sendiri apalagi ditampilin di socmed? Duh. Ada hal yang membuatku gak suka foto selfie dan gak mungkin kuceritain disini

Gak semua hal kutulis disini. Sekian.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Anak- Anak di Persimpangan Sawah

Sudah beberapa hari ini perasaanku kurang bagus. Hidup dewasa kadang gak menyenangkan seperti dipemikiranku dulu. Di sini aku benar- benar dilepas layaknya burung kecil yang baru lahir, yang harus segera belajar terbang untuk hidup mandiri. Tapi aku tau, siklus hidup seperti ini gak mungkin ku hindari. Nikmati saja, meskipun beberapa orang sedang berburuk sangka padamu sekalipun. Itu yang kurasain sekarang. Kecewa sekali rasanya ketika kamu dinilai ‘gak baik’ oleh temanmu sendiri, tanpa berbicara apa- apa, hanya menampilkan ekspresi apa adanya – yang bisa dengan mudah segera kutangkap makudnya-  Tapi disisi lain aku memakluminya, kita memang bukan teman dekat – wajar saja penilaian terhadapku itu salah. Dari kita gak ada yang salah kok. Kita, hanya belum saling mengenal dan memahami saja.

Badmood akan kejadian itu belum membuatku benar- benar pulih. Maka sepulang dari kuliah, aku menyempatkan diri melewati sawah- sawah dekat kost. Aku sengaja berlama- lama di sana. Mandangin orang- orang bermain futsal di lapangan sebelah sawah, bercerita dengan seorang ibu yang kebetulan berada di sana, tersenyum melihat seorang kakek duduk dikelilingi padi, ia menggerakkan orang- orangan sawah, membuatku mendongak ke atas, terpesona  liatin burung- burung terbang membentuk formasi yang indah.

Tingkahku yang berdiri lama di sana membuatku diperhatikan oleh sekelompok anak SD. Dan aku sadar benar akan hal itu.  Sudah puas liatin sawah beserta ’ isi kegiatannya’ aku berjalan menuju kost yang tinggal beberapa meter lagi. Aku harus melewati  satu- satunya jalan yang sedang penuh anak- anak SD tadi.

Dari situ percakapan dimulai,
“Mbak….” Dengan ramahnya mereka menegurku.
Aku menoleh. Tersenyum. Sayangnya saat itu aku sedang memakai masker. Mungkin hanya garis mataku yang sedang terlihat bahwa aku sedang tersenyum.
“Ada apa dek?” tanyaku dengan ramah.
Salah seorang dari mereka memberikan buah kecil yang asing untukku.
“Ambil saja mbak,” kata mereka.
Aku mengambil satu dari tangan yang ingin memberikanku buah itu.
“Wah.. buah apa ini dek?”
“Telo mbak,” rasanya suara dikupingku terdengar seperti itu (?)
“Bisa dimakan dong, kirain ini yang untuk dilempar- lempar itu lohh” aku bercanda sambil meraktekin gerakan setengah melempar.
“Eh.. Nggak dong mbak. Itu bisa dimakan kok mbak,” jawab mereka diselingi tawa. Sangat ramah.
“Ambil saja lagi mbak,” Ia memberikan satu buah lagi untukku. Sekarang jumlahnya pas dua di tanganku.
“Terima kasih. Nah, sekarang selamat bermain ya dek.”
“Iya mbak,” jawab mereka kompak.
Baru setengah melangkah mereka bertanya,
“Kuliah dimana mbak?”
Aku menyebutkan tempat kuliahku. Setelah itu kami melambaikan tangan. Berpisah.

Badmoodku seketika hilang. Bukan karena dikasih buah secara gratis, tapi tawa yang mereka tularkan kepadaku. Tawa yang ramah, menyenangkan, tawa masa indah anak- anak. Membuatku menyadari bahwa masih ada hal- hal menyenangkan di dunia ini.
Kebahagiaan itu memang perlu ditularkan ya sob J

Sabtu, 20 September 2014

Lembayung Sore Itu

Beberapa orang berlalu lalang di dalam bus sore itu,
kemudian hanyut dalam pikiran masing- masing,
sebagian lain terlibat dalam percakapan ringan.
Kau adalah arus waktu,
beberapa kali lembayung semakin memekatkan dirinya sebelum lenyap,
Kemudian,
orang- orang yang memenuhi bus sore itu
berlalu lalang menuju peraduannya masing- masing