Minggu, 04 September 2016

04092016

Beberapa kali ditanya teman,"lebih suka tanah rantauan atau tanah kelahiran?"

"Dua-duanya,"jawabku dengan langsung. Dua hal tersebut masing- masing ada dihati , tentu dengan hal berbeda dan tidak tercampur.

Aku merantau di Yogyakarta. Pertama kali belajar di kampus, aku terkesima bertemu dengan teman- teman dari berbagai daerah. Kemudian mendengar teman- teman berbicara dalam bahasa daerahnya, menceritakan tentang tanah kelahirannya. Benar, Indonesia sangat luas.
Masih teringat tentang aku dan teman- teman luar jawa belajar mati-matian (?) untuk mengerti bahasa jawa. Boleh kau tanya kira- kira bahasa jawaku sampai mana :D . 
Di tanah rantauan inilah aku belajar banyak hal. Selain tentang pendidikan di sana, aku belajar tentang menjadi mandiri (bayangkan rasanya dilepas sendiri ke sini), arti pulang kalo udah balik ke Palembang, dsb.
Tentang jalan- jalan? Belum semua tempat kudatangi sih, namun setidaknya udah banyak. Aku jadi ingat kalo di Palembang sangat susah untuk kemana- mana (izin orangtua). Kalo disini, jangan ditanya. Pesanku untuk anak merantau: pintar- pintarlah dalam menjaga diri. Ingat tujuan awal merantau untuk apa.

Aku lahir dan besar di Palembang, meskipun orangtuaku bukan asli sana. Berada di sana membuatku merasakan home. Sejak kecil aku mengenal kota dan budaya sana. Tak lupa juga aku mengenal orang- orang yang hadir di hidupku: keluarga, teman, dsb. Meskipun orang bilang kami terkenal sebagai orang yang keras, inilah kami. Tumbuh besar disana sangat menyenangkan, udah biasa dengan lingkungan sana. Dan..... aku benar- benar kangen mereka, kangen Palembang, dan kangen apa aja yang tak ku dapatkan di sini, tanah rantauanku.

Suatu hari aku menginap di rumah temanku asli Jogja. Kami berbicara apa saja, hingga disuatu pembicaraan aku berkata,
"pasti enak kalo kuliah di Jogja. Ada keluarga, terus habis dari kampus bisa pulang ke rumah."
"iya Ber," jawabnya. "Tetapi kalo liburan pasti teman- teman merantau yang enak."
"maksudnya?"
"kalo kalian merantau dan pulang, pasti kalian benar- benar disambut, terutama teman- temanmu antusias ngajakin kumpul bareng kan."
:)

Sebagai referensi bacaan ini, bagaimana kalo kalian mendengarkan lagu:
- Ya Saman (lagu dari Palembang)
- Jogjakarta by kLa Project

Rabu, 27 Juli 2016

Pintu

Rasanya, kita memegang masing- masing apa yang disebut sebagai pintu. Keras, terkunci rapat. Di dalamnya, orang- orang tenggelam dalam pemikirannya. Lantas siapa yang harus keluar lalu mengetuk pintu duluan?

Sabtu, 16 Juli 2016

Enjoy the Moment

Mereka yang mengajarkanku arti jauh dari orang- orang yang kusayangi, arti bersabar; bersabar akan penantian, bersabar atas apa yang belum atau tidak kupunya, serta arti bersyukur; bersyukur dalam apapun termasuk punya sahabat seperti mereka.

Apa yang membuat kami dekat? Persamaan karakter? Aku menggeleng. Karakter kami banyak bedanya. Tidak pernah berantem? Oh, justru pernah, tak terhitung. Hobi, kesukaan? Wahh.. apa pula itu.
Jika aku uraikan jawabannya, tak cukup untuk menuliskannya. Sebaiknya aku saja yang bertanya padamu, yang pasti juga punya orang- orang terdekat: apa yang membuatmu dekat dengan mereka hingga sampai saat ini dan untuk selanjutnya, Insya Allah.


Dari sekian foto momen kita, foto ini yang jadi favoritku. Kau tau kenapa? :)
11072016

Selasa, 28 Juni 2016

28062016

Ada banyak pintu yang membawaku iri, cemburu. Namun aku lebih memilih menutupnya lalu berdamai dengan hati, memilih untuk bersama orang- orang yang kusayang.
Apa suatu saat pintu itu akan terbuka ?