Minggu, 22 Februari 2015

22022015


#latepost

Ceritanya aku mau telponan sama mama. Yang pertama angkat telepon adalah kakak lelakiku:

aku: Loh, kak. Hari ini gak kerja?
kakak: Enggak dek. Kan libur imlek

Aku lupa. Maklum lama liburan semester, nyaris gak liat kalender. Kemudian kami cerita panjang lebar, aku menanyakan kabarnya, kabar yang lain, sampai persiapan pernikahannya. Kakakku pun menanyakan kapan kepulanganku.

Kemudian ia memberikan hp pada mama. Disela ceritaku dengan mama, kakakku teriak (hp di loudspeaker)

kakak: Woi dek. Jalan kau nih. Jangan dikosan terus.
aku: Wehh... jalan dong. Ntar siang mau ke pantai sama teman- teman
kakak: pantai? (teriak) eii.. hati- hati. Jangan deket- deket nian samo air. Besak ombaknyo. Angin kenceng. Pasir begerak. blabla..

Aku tertawa. Tadi dia nasihatin aku ~dengan suara ledekan yang khas~ agar aku keluar kost. Giliran aku kasih tau mau ke pantai, nasihatnya panjang lebar.

Enaknya punya kakak lelaki ya begini

Jumat, 13 Februari 2015

Sepotong Cerita Klasik Asrama

Kisah Kamar 26 Gang C (aspi)


Malam pas tidur,sering kali buku- buku Dhia Urrif'at jatuh ke ranjangku :p hingga membuatku terbangun.
Salah satunya buku harian Dhia. Karena jatuh dalam keadaan terbuka, aku tidak sengaja (sengaja atau tidak sengaja?) membacanya. Wakakakak...

Pagi- pagi sebelum berangkat ke sekolah ,Marcellyna Putry Utami selalu karokean (nyanyi ding).
Marcel mau duet sama toak. Eh, giliran toak bernyanyi -tanda penghuni asrama putri ke halaman- Marcel jadi kocar- kacir. Lhooo??

Berta Rizkinawati hobi berutu'an setiap ada kucing di ranjang (gak setiap hari ada kucing di ranjang). Ngapolah nak ke kasurku nian?  Ngefans kali :P
Aku sampai beberapa kali ganti seprei, selimut dan sarung bantal. :(

Aku sering rebutan Shinichi Kudo (tokoh komik) sama Kak Suci Ayu Lestari.
"Kak Uci, adek seneng sama Shinichi."
"Oh, Dek Berta. Dak dak.. Dak boleh." 
"Yang tua harus ngalah," (Siap- siap mengeluarkan jurus taekwondo)
"Eitzz.. yang kecik harus ngalah." (Siap- siap mengeluarkan jurus karate)
Haha.. Gak pake jurus- jurusan kok! 

Kak Lina Puji. W hobi telponan diem2 kalau malem ;)
Hihi... Anak muda dong!

Di hari ulang tahun Kak Waliya Mursyida, kami ngerjoinyo. Malem pas Kak Lia tidur, sebagian nyiapin kue ulang tahun. Dhia naik ke ranjang Kak Lia di tingkat atas dan bangunin Kak Lia agar dia mau nemenin Dhia ke wc yang pada saat itu asrama sedang mati lampu (padahal lampu kamar kami matiin). Kak Lia langsung marah- marah sampai beberapa menit dalam keadaan setengah terpejam. Setelah dipaksa akhirnya Kak Lia bangun dan.... waw, ada kue ulang tahun dengan lilin dinyalakan. Kami menghidupkan lampu. Ooww.. Kak Lia terharu!

Kangen masa- masa asrama
dari kejadian di kamar, asrama putri, malam minggu bukan jadwal pulang pentas seni di masjid bareng penghuni asrama putra, dll . Suka dan duka menyelimuti :')
***
Kisah ini ku tulis kalau gak salah selepas kenaikan kelas X. Tulisan ini ku copas dari salah satu akun socmedku, tanpa edit lagi.  Dan perbedaannya dari tulisanku sekarang.... betapa bocahnya dulu caraku menulis kisah ini.

Jumat, 30 Januari 2015

Aku dan Mereka

Punya kakak seperti mereka membuatku benar- benar bersyukur. Mereka adalah anugerah terindah yang dititipkan Allah melalui kedua orangtuaku. Walaupun usiaku sangat jauh dari ketiga saudaraku, gak membuatku minder sama teman- teman lain, yang jarak usianya sama saudaranya masih dekat. Justru dengan usia yang terpaut jauh (15,13,dan 10 tahun), Allah membuatku banyak bersyukur bahwa aku dididik, disayang sama orang dewasa, dengan pembawaan yang dewasa pula. Melalui mereka, Allah juga mengajarkanku tentang hidup dewasa. Mengapa bisa? Iya, aku merasakan kebersamaan dengan mereka di rumah yang sama hanya sampai sd kelas 6. Memasuki smp kelas 1, kakak pertamaku menikah; smp kelas 3, kakak keduaku; dan sekarang, satu- satunya kakak lekakiku akan menikah. Di usia awal smp, aku gak lagi ngerasain yang namanya 'berantem hal sepele.' Itu artinya, aku harus mengurangi sifat manjaku akan mereka. Tentu saja, mereka kan harus mengurusi keluarga mereka juga :)
Ingat masa kecil, sama mereka suka berantem, cerita, usil, suka diam- diam ambil makanan mereka, sampai aku digendong dipunggung (yang ini sama kakak lelakiku).
Dari aku kecil, secara tidak langsung mereka mengajariku tentang hidup dewasa kelak. Mereka bilang bahwa aku harus selalu siap dengan lika- liku yang ada. Dan kini aku paham maksud mereka~

BR

Sabtu, 17 Januari 2015

Kau (lagi) ?

Beberapa hari lalu, aku sempat menggalau tentangmu. Enggak, lebih tepatnya aku telah berkali- kali menggalau tentangmu. Berkali- kali aku melihat perubahanmu terhadapku ~sebagai temanmu~ .

Aku sudah berkali- kali berprasangka baik, namun kali ini aku benar- benar kecewa.

Kita adalah teman. Kau adalah orang ramah.  Mirisnya, kita susah untuk bersapa.

Kau adalah orang yang susah menyapaku, sedangkan aku adalah orang yang susah untuk berbasa- basi denganmu.

Bukan tipikalku  untuk bebas berekspresi, menunjukkan diri bahwa aku adalah temanmu, kau adalah temanku. Hanya, aku punya cara tersendiri untuk menunjukkannya. Yang mungkin tak terduga oleh orang.

Aku memang butuh waktu lama untuk nyaman. Bukan berarti aku gak pernah merasa nyaman. Aku sering kesusahan menemukan topik cocok untuk berbasa- basi.

Bukan tipikalku untuk berbasa- basi. Aku gak terlatih untuk itu. Namun bukan berarti pula aku gak mau berbasa- basi.

Mungkin ini teguran untukku. Seharusnya aku menganggap seorang teman sebagai sikap sederhana. Sebaik dan seramah  apapun dia, dia jugalah makhlukNya.

Namun Allah tetap Maha Baik. Ia masih menyadarkanku bahwa aku masih mempunyai teman- teman, sahabat. Yang memahami kekuranganku. Berbicara dengannya, membuatku semakin bersyukur bahwa mereka ada.

Kegalauanku tentangmu pun sirna.

Salahku, yang tidak bisa berbasa- basi denganmu, teman.

Kau kecewa?  Iya, aku paham. Sekali lagi kukatakan, aku bukan orang yang mudah berekspresi untuk mengatakan “aku tau kau kecewa denganku, sebagai temanmu.”

Disisi lain, aku tetap mengakui ‘aku’ yang sebenarnya.

Maka kubiarkan dulu untuk kau sendiri. Karena kau bukanlah orang yang mudah mendengarkan.

Semoga kau paham.

Salam,
Dari teman (kurang) akrabmu,
BR