Selasa, 17 Maret 2015

Satu Menit

Kau tau, ketika aku diberikan waktu empat hari untuk bertemu mereka, tentu aku menganggap itu semua sudah cukup. Dari pertemuan itu mengajarkanku bahwa bagaimanapun mereka, mereka adalah orang yang sangat dekat dan selalu ada untukku. Mereka menerima dan memahami seberapa buruknya beberapa sifat pada diriku.

Maka ketika empat hari itu telah usai, kaki terasa berat untuk melangkah. Meninggalkan mereka. Aku makin menyadari bahwa satu menit pun sangat berharga untuk bersama mereka. Padahal ketika aku masih anak- anak dan lagi dimarahi salah satu diantara mereka, bukankah aku pernah berpikir betapa kesalnya aku selalu bertemu mereka?

Aku pergi demi amanah, pulang untuk kalian.

BR

Senin, 09 Maret 2015

Catatan Perjalanan

Jumat lalu aku memutuskan untuk pulang, menghadiri pernikahan abang kandungku. Agar cepat, tentu saja aku memilih untuk naik pesawat.

Di dalam pesawat, aku duduk di tengah, diapit seorang laki- laki usia kira- kira 20-30 tahunan yang entah kenapa terlihat sangat lelah sehingga memutuskan untuk tidur, serta seorang bapak berusia sekitar 50-60 tahunan yang sebenarnya aku dapat menebak bahwa ia adalah seseorang yang ramah namun entah kenapa memutuskan untuk diam menikmati perjalanan. Dan aku? Ah, aku adalah seorang pencerita yang tak pandai berbasa- basi, memilih untuk diam melihat-lihat produk di majalah. Kalaupun bisa memilih, aku sih sebenarnya lebih suka diajak bercerita. Tetapi aku memaklumi keadaan, yang membuatku hanya d-i-a-m s-a-j-a.

Menit perjalanan dihabiskan untuk waktu bertapa. Hanya dua orang yang terdengar sedang asyik berbicara dari belakang. Sisanya? Sunyi menerpa.

Bagaimana keadaan tempatku? Tebakanku benar. Lelaki muda di sampingku benar- benar kelelahan, bahkan ia tak menyentuh sama sekali makanan yang diberikan oleh pramugari. Sedangkan bapak tadi, dengan ramahnya ia menawarkanku beberapa koran yang diberikan pramugari juga, yang langsung ku balas senyum ramah yang berarti penolakan halus. Bapak tersebut sepertinya sudah menduga. Ia pun membalas tersenyum sebelum akhirnya tenggelam dalam tulisan berparagraf tersebut.

Beberapa menit sebelum landing, aku pun menyempatkan untuk melihat keluar. Aku langsung mengenali tanah kelahiranku, ciri khas Sungai Musi membelah provinsiku. Benar- benar kelihatan. Aku pun makin takjub ketika semakin mendarat, semakin aku mengenali sedang berada di atas manakah kita.

“Wah, kita berada di Pusri ya Nak?” Tanya bapak di sampingku
“Iya pak, benar- benar terlihat jelas.” jawabku
“Dan itu Amperanya kelihatan,” ujarku takjub
“Benarkah?” Bapak itu berusaha melihat di balik kaca mata plus nya. “Wah, benar sekali Nak. Alangke cindonyo kota kito ni (Alangkah indahnya kota kita ini).

Aku tersenyum. Cuaca saat itu benar- benar cerah. Beberapa kali mendarat di Palembang (dihitung liburan semester sebelumnya), baru kali ini aku bisa melihat dengan jelas ke bawah, selama ini aku hanya melihat Sungai Musi saja.

Perjalananku itu membawa pelajaran buatku. Apa saja itu? Selamat menangkap makna J

Minggu, 22 Februari 2015

22022015


#latepost

Ceritanya aku mau telponan sama mama. Yang pertama angkat telepon adalah kakak lelakiku:

aku: Loh, kak. Hari ini gak kerja?
kakak: Enggak dek. Kan libur imlek

Aku lupa. Maklum lama liburan semester, nyaris gak liat kalender. Kemudian kami cerita panjang lebar, aku menanyakan kabarnya, kabar yang lain, sampai persiapan pernikahannya. Kakakku pun menanyakan kapan kepulanganku.

Kemudian ia memberikan hp pada mama. Disela ceritaku dengan mama, kakakku teriak (hp di loudspeaker)

kakak: Woi dek. Jalan kau nih. Jangan dikosan terus.
aku: Wehh... jalan dong. Ntar siang mau ke pantai sama teman- teman
kakak: pantai? (teriak) eii.. hati- hati. Jangan deket- deket nian samo air. Besak ombaknyo. Angin kenceng. Pasir begerak. blabla..

Aku tertawa. Tadi dia nasihatin aku ~dengan suara ledekan yang khas~ agar aku keluar kost. Giliran aku kasih tau mau ke pantai, nasihatnya panjang lebar.

Enaknya punya kakak lelaki ya begini

Jumat, 13 Februari 2015

Sepotong Cerita Klasik Asrama

Kisah Kamar 26 Gang C (aspi)


Malam pas tidur,sering kali buku- buku Dhia Urrif'at jatuh ke ranjangku :p hingga membuatku terbangun.
Salah satunya buku harian Dhia. Karena jatuh dalam keadaan terbuka, aku tidak sengaja (sengaja atau tidak sengaja?) membacanya. Wakakakak...

Pagi- pagi sebelum berangkat ke sekolah ,Marcellyna Putry Utami selalu karokean (nyanyi ding).
Marcel mau duet sama toak. Eh, giliran toak bernyanyi -tanda penghuni asrama putri ke halaman- Marcel jadi kocar- kacir. Lhooo??

Berta Rizkinawati hobi berutu'an setiap ada kucing di ranjang (gak setiap hari ada kucing di ranjang). Ngapolah nak ke kasurku nian?  Ngefans kali :P
Aku sampai beberapa kali ganti seprei, selimut dan sarung bantal. :(

Aku sering rebutan Shinichi Kudo (tokoh komik) sama Kak Suci Ayu Lestari.
"Kak Uci, adek seneng sama Shinichi."
"Oh, Dek Berta. Dak dak.. Dak boleh." 
"Yang tua harus ngalah," (Siap- siap mengeluarkan jurus taekwondo)
"Eitzz.. yang kecik harus ngalah." (Siap- siap mengeluarkan jurus karate)
Haha.. Gak pake jurus- jurusan kok! 

Kak Lina Puji. W hobi telponan diem2 kalau malem ;)
Hihi... Anak muda dong!

Di hari ulang tahun Kak Waliya Mursyida, kami ngerjoinyo. Malem pas Kak Lia tidur, sebagian nyiapin kue ulang tahun. Dhia naik ke ranjang Kak Lia di tingkat atas dan bangunin Kak Lia agar dia mau nemenin Dhia ke wc yang pada saat itu asrama sedang mati lampu (padahal lampu kamar kami matiin). Kak Lia langsung marah- marah sampai beberapa menit dalam keadaan setengah terpejam. Setelah dipaksa akhirnya Kak Lia bangun dan.... waw, ada kue ulang tahun dengan lilin dinyalakan. Kami menghidupkan lampu. Ooww.. Kak Lia terharu!

Kangen masa- masa asrama
dari kejadian di kamar, asrama putri, malam minggu bukan jadwal pulang pentas seni di masjid bareng penghuni asrama putra, dll . Suka dan duka menyelimuti :')
***
Kisah ini ku tulis kalau gak salah selepas kenaikan kelas X. Tulisan ini ku copas dari salah satu akun socmedku, tanpa edit lagi.  Dan perbedaannya dari tulisanku sekarang.... betapa bocahnya dulu caraku menulis kisah ini.