Sabtu, 30 April 2016

Siren's Lament in Webtoon

http://www.webtoons.com/id/romance/sirens-lament/ep00-akhirnya-dimulai-di-sini/viewer?title_no=650&episode_no=1

Salah satu webtoon kesukaanku akhirnya muncul di webtoon Indonesia. Maybe you will ask,
"why do you like it?"
Well...... panjang juga mau dijabarkan. Intinya :
First, I like (aku suka) perpaduan art Instantmiso dan soundtrack yang dibuat Kenny.
Second, I like blue! Dan mataku suka pangling lihat warna biru (webtoon saat itu promosi cerita ini dengan tiga tokoh utama dengan latar biru laut. Ah, I like sea, too; yang mengingatkanku bahwa tanah kelahiranku tidak ada pantai dan mumpung aku berada di tanah rantau, aku puas- puasin ke pantai bersama teman- temanku.
Third, I know Instantmiso and Kenny since I read Where Tangents Meet. Dari situ saya suka mereka. ^_^ Aku sempat kesusahan untuk mengartikan tangents dalam bahasa Indonesia. Karena tangents berarti garis singgung. Namun ada keterangan dari translit:
"a completely different line of thought or action."
Mungkin bisa diartikan sebagai antara pemikiran dan tindakan suka berbeda dalam satu waktu yang sama.
That's about my story :)

Minggu, 10 April 2016

Deskriptif

AKU
(n)? : Seseorang yang sering diajak jalan sampai harus ditarik- tarik gara- gara lengket banget di ruangan, Seseorang yang sering membuat jengkel sahabat- sahabat nya gara- gara ulahnya itu. Tapi sekali dia ngebet jalan...... susah menghentikannya.
Pertama ajak dulu beberapa orang (paling gak satu atau dua. Rame asal akrab lebih bagus lagi). Tapi kalo memang gak ada yang bisa diajak jalan, sendiri pun no problem.

Setelah sekian lama menghabiskan liburan akhir pekan hanya dikosan, lama- lama timbul jenuh juga (padahal seminggu yang lalu juga udah jalan keluar sama sobat). Kebetulan tadi ada acara kampus aku pun nyempatin kesana untuk refreshing. H minus acara udah nanya- nanya ke teman- teman sekelas yang bakalan ikut. Sudah kebiasaan, meskipun sebenarnya aku bisa sih langsung datang aja.

Pas mau keluar, tiba- tiba salah satu temanku yang udah lama gak ada kabar di Jogja, Aris, menghubungiku.
"Ber, sibuk gak? Jalan yok. Ajak Kanya juga."

Aris dan Kanya  bener- bener teman akrabku sejak sekolah. Aku dan Aris satu sekolah sejak MTs (3 tahun) dan MA (yang ini gak pernah sekelas). Kalo aku dan kanya satu sekolah sejak MA, kita gak pernah sekelas, seringnya ketemu kalo ada pertemuan antarkelas serta acara di asrama, makanya jadi akrab. Kita bertiga sama- sama di Jogja, berpencar di berbagai universitas.

Balik ke chat:
"Yah, Kanya lagi uts. Aku ada acara kampus."

Kita udah lama ngerencanain jalan bareng, cuma belum kesampaian. Kalo aku dan Kanya sih udah sering, Susahnya kalo nyinkronin jadwal senggang kita dengan Aris. Giliran Aris senggang, kita yang gak bisa.

Tu anak cowok sendiri yang kuliah di jogja, limanya cewek semua, dengan tiga diantaranya bener- bener ngilang kabar. Atau jangan- jangan masih ada teman kita yang ternyata juga di Jogja cuma gak tau sekarang dimana (?)

Ris, apa kamu belum pernah jalan sama teman- teman satu sekolah yang ada di Jogja?


Dear Aris and Kanya,
balik ke rencana waktu semester tigo kemaren,
peh kapan- kapan kito bejalan betigo

Untuk teman- teman yang belum ada kabar,
Tari, Febriza, Novi, atau siapapun
where are you guys?

Jumat, 25 Maret 2016

25032016

Untuk lima tahun lalu,
Assalamu'alaykum, kaifa haluk*?
Aneh sekali untuk menanyakan kabarmu, mengingat sudah lima tahun pula aku vakum menulis lalu masih kembali --- if you know what I mean.
Benar- benar bocah sekali aku mengatakannya --- padahal bocah kecil pun dimana- mana mudah ngungkapin keinginan dan rasa penasarannya.
Karena kau juga, sahabat- sahabatku sering menggelengkan kepala hingga mencandaiku, "dikau yang penting masih waras." --- Berusaha mengunci rapat- rapat rahasiaku sampai akhirnya 75% diketahui mereka, lalu sengaja membiarkan sisanya untuk kusimpan sendiri bersamaNya --- Alhamdulillah mereka memaklumi prinsip dan pribadiku. Benar- benar bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. 

Ya ant* , saat itu bukanlah hal mudah, tapi bukan berarti sesulit yang kau kira. Aku harus berjuang membandingkan mimpi dan realita; berjuang melawan perang yang sebenarnya kuciptakan sendiri.
Hingga memasuki usia 20 tahun, aku akhirnya bisa stabil.
Hidup akan terus berjalan maju, Realita saja, aku tak perlu menjadi Sang Penjelajah Waktu untuk sekedar di zona dulu. Karena hal itu hanya ada diimajinasi. Cukuplah kita terus berjalan dan berdoa. Meskipun aku belum tahu seperti apa kelak kedepan, apapun yang telah Allah takdirkan, itu yang terbaik.

Salam dari masa kini,
untuk kau.


Selasa, 13 Oktober 2015

Waiting Room

Liburan semester kemarin kuputuskan untuk liburan ke kota A, tempat salah satu kakakku yang sudah berkeluarga. Pergi ke kota A adalah salah satu impianku yang akhirnya terwujud, dengan mengandalkan uang tabungan (meski ada sedikit problem), serta dikeluargaku hanya aku yang belum pernah ke rumah kakakku itu. Tentu saja semakin semester atas, aku belum tentu memiliki waktu untuk mengunjunginya.

Di ruang tunggu, aku duduk berseberangan dengan seorang wanita yang kira- kira umurnya lebih tua dari kakak sulungku. Ia sedang menggendong bayinya. Beberapa ibu di sekitar ku pada bertanya tentang wanita itu.

"Anaknya lucu....."
"Umurnya berapa bu...."
"Mau kemana bu...."

Dengan ramah wanita itu menjawab pertanyaan para ibu disekitar ku.

Aku hanya diam memperhatikan. Saat aku melihat wajahnya, benar- benar menenangkan. Benar- benar wajah seorang ibu, pikirku. 

Kemudian suasana hening kembali. Para ibu yang tadi antusias bertanya kini diam melanjutkan aktivitas masing- masing. Wanita tadi sekarang menimang anaknya. Aku menoleh ke arah luar. Beberapa kali terdengar suara jadwal penerbangan di ruang tunggu. Para pemudik benar- benar khidmat setiap kali suara itu terdengar, berharap kali ini adalah jadwal penerbangannya.

"Ah.. mbak.."

Aku menoleh ke arah suara. Ternyata wanita tadi, kini sedang tersenyum kepadaku.
Aku pun membalasnya.

"Mau kemana mbak?" tanyanya. Aku pun menjawab. Ternyata tujuan kami sama, hanya beda penerbangan. Apalagi kami baru tau kalau kami sama- sama orang Sumatera dengan provinsi yang bertetanggaan.

"Anaknya lucu ya bu. Umurnya berapa?" Sebenarnya aku bingung mau memanggilnya mbak atau ibu. Wanita itu sepantaran dengan kakak- kakakku, tapi aku ngerasa aneh aja kalau kita sama- sama manggil mbak, sedangkan ia sudah jelas telah berkeluarga. Makanya aku memanggilnya ibu. Dan tentu ia tak keberatan.

"Dua bulan," jawabannya membuatku terkesima.

Percakapanpun mulai mengalir, aku memperkenalkan diri sebagai mahasiswa semester lima, yang disambut dengan senyum hangat sambil ia berkata,

"Kalau saya maba (mahasiswa baru) mbak. Tapi S-2."

Yang membuatku makin terkesima lagi ialah kisah keluarganya. Apalagi saat- saat ia sedang hamil memasuki trimester akhir sedangkan saat itu ia harus ujian.

"Jadi selama hamil ibu gak cuti?" Tanyaku kaget
"Bagaimana mau cuti mbak, saat itu saya sedang ujian. Alhamdulillah saya tetap menjalaninya dengan enjoy. Beberapa hari selesai ujian, saya melahirkan."

Ya Allah,ini  benar- benar perjuangan seorang ibu sekaligus mahasiswa.

Kemudian wanita tersebut bercerita tentang kehidupannya, termasuk menjawab pertanyaanku tentang perbedaan S-1 dan S-2.

Suara si operator jadwal penerbangan memecahkan percakapan kami sekaligus memisahkan kami. Wanita tersebut mohon pamit.

"Hati- hati Bu," Kataku lalu disambut lagi dengan senyum hangatnya.

Bahkan dalam keadaan mudik sekalipun tetap saja ada pelajaran yang akan kau dapat, seakan- akan pertemuan memang diciptakan salah satunya untuk itu. Tinggal bagaimana kau menyaring pelajaran itu untuk mengambil hikmahnya. ~BR