Minggu, 20 Juli 2014

Akulah Bintang

Sebelum aku menuliskan ceritaku lebih lanjut, terlebih dahulu aku mau minta maaf sama orang- orang yang terlibat di cerita ini. Apalagi di cerita ini ada salah satu dosenku :3
Untuk jaga privasi mereka, aku pake nama samaran. Yah.. siapa tau yang gak sengaja ketemu blog ku ini adalah salah satu diantara mereka :3 (you know what I mean).

Cerita ini bermula dari Sabtu, 5 Juli. Aku mendapat sms dari Mbak Wini, ketua KMMF (Keluarga Mahasiswa Muslim Farmasi), untuk ngajak buka bersama di rumah Pak Ahmad, dosen sekaligus pembina organisasi. Sebenarnya dari awal proker tambahan, agenda ini udah ada. Tapi entah mengapa saat hari H aku menjadi ogah- ogahan berangkat. Sepertinya ini efek dari habis UAS, pengen cepet- cepet pulkam, namun tertunda karena suatu hal. Hehe... (yang pasti bukan tertunda gara- gara acara ini ^_^)

Keogahanku makin menjadi ketika aku telat bangun tidur siang dari jadwal jam agenda. Asli, itu gak disengaja! Alarm di kepalaku udah menyesuaikan diri dengan keogahanku rupanya :o

Hari itu udah pukul 4 lewat. Mbak Wini send all ke seluruh anggota:
Mbak Wini: Yuk, yang mau ikut buka bersama ditunggu di masjid.
Aku: (Kubalas) Saya nggak ikut ya mbak
Mbak Wini: Kenapa gak ikut dek?
Aku: Udah kesorean mbak. Belum solat. Ntar lama nunggunya

Aku gak bohong. Aku belum solat asar. Tapi aku gak ngasih tau kalo sebenarnya aku juga lagi males berangkat. Gak enak sama mbaknya.

Ternyata Mbak Wini gak menyerah:
Mbak Wini: Gak apa- apa dek, Mbak tunggu ya. Kita udah masak banyak, ntar mubazir :) Bareng Tami kan dek?
Aku: Tami gak ikut mbak. Gak tau kenapa.

Mbak Wini langsung meneleponku,
Mbak Wini: Mbak jemput adek di kostan ya
Duh, aku jadi gak enakan sama Mbak Wini. Masa mbaknya jemput aku dikosan?
Aku: Eh, nggak usah mbak Biar aku aja yang jalan ke masjid. Masih ada tebengan motor kan?
Mbak Wini: Iya dek masih ada. Mbak tunggu ya.
(saat itu udah jam setengah 5)

Aku akhirnya melawan rasa keogahanku. Belum aku berangkat, tiba- tiba Lina sms:
Lina: Ber, kalo kamu berangkat, ajak Tami sama Riri ya.
Aku: (Kubalas) Mereka gak berangkat. Riri di tempat mbaknya. Kalo Tami aku gak tau kenapa.
(mereka bertiga adalah teman sekelas sekaligus kosan)
Lama sekali dibalas oleh Lina. Dan tau- taunya...
Lina: Kamu gak bilang sih kalo konfirmasi ikut, jadi kita bisa bareng. Aku kira kamu gak ikut. Kamu siap- siap ya, biar aku jemput.

Aduh, tambah lagi ini =_= Padahal kan aku belum bilang mau ikut apa enggak :o
(Efek belum ada motor gini nih. Kawanku jadi antar jemput. Rada gak enak sih. Mau pinjam sama yang lainpun, motornya dipake semua)

Jam 5 lewat 5, Lina menjemputku. Padahal jarak rumah Pak Ahmad sama kosanku sangat jauh. Aku berpikir, jangan- jangan pas azan baru nyampe -_-

Ternyata enggak. Alhamdulillah..Kan gak enak dong kalo pas azan nyampe. Kayak cuma numpang buka puasa aja -_-
Akhwat dan ikhwan KMMF telah berkumpul. Rada- rada kaget aku datang sangat telat. Aku pun meminta izin dengan Pak Ahmad untuk ke dalam rumah, berkumpul sama akhwat lainnya.

Pak Ahmad melanjutkan pengarahan yang terpotong gara- gara kedatanganku tadi :p Aku gak terlalu menyimak apa yang dibicarakan beliau. Beberapa akhwat bertanya kepadaku alasan ketidakhadiran Tami dan Riri.

Namun ketika aku mulai fokus mendengarkan pengarahan Pak Ahmad, beberapa menit menjelang waktu berbuka, tiba- tiba beliau berkata,
"...Kebaikan itu terkadang susah dilakukan. Harus dipaksa. Saya tahu itu. Seperti tadi kan, temannya dijemput jauh- jauh untuk datang ke sini."
Teman- temanku tertawa. Aku spontan bersembunyi di balik gorden. Bener- bener malu. Sempat kulihat Pak Ahmad tersenyum ke arahku. Disaat begini Pak Ahmad mengeluarkan leluconnya. Dosen kami ini memang udah dikenal sebagai humoris.

Akhwat semakin menjadi- jadi  mengguyoniku atas lelucon tadi. Lina yang menjemputku tadi malah ikut- ikutan mengguyoniku. Padahal siapa coba yang berinisiatif menjemput =_=

Semoga dari pengalaman ini jadi pelajaran buat kalian ya sob.

 "Tulisan ini diikutsertakan dalam Best Article Blogger Energy"

Minggu, 27 April 2014

27042014

"...Karena yang dekat belum tentu dekat."
Aku seakan tersihir dengan kata- kata itu. Awalnya aku tidak mengerti maksudnya.
Menolak semua kemungkinan.
Namun ketika perlahan berubah, sejenak aku menutup mata.
Bergumam,
semoga semua baik- baik saja...

Random

Sabtu, 26 April 2014

Aku, Si Penikmat Langit

Jika di novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye, si tokoh utama yang dari kecil hingga sekarang suka berlama- lama menatap bulan, maka aku dari kecil hingga sekarang suka berlama- lama menatap langit.

Sewaktu kecil, aku paling suka duduk berlama- lama menatap langit di beranda rumah. Dengan santainya aku duduk di pegangan beranda rumah. Kalau udah kayak gini, biasanya orangtuaku pada nasihatin "jangan sampai jatuh" atau kalo aku duduk mulai dari sore menjelang maghrib, aku bakal dinasihatin untuk segera masuk ke dalam rumah.
Di sana juga, aku suka bernyanyi dengan suara keras hingga pernah gak sadar kalau kakakku sudah lama berdiri di belakangku :D

Sekarang aku kembali menikmati langit~meski gak selama kayak dulu~. Kali ini tempatnya bukan di rumah tetapi di kost. Aku suka menyempatkan diri naik ke loteng atas kostan. Tidak sampai situ, aku pun menaiki tangga tempat bak air sulingan. Jadilah aku menikmati langit di lantai empat :D

Sesekali aku suka memotret lukisan alam tersebut. Aku pernah memberi salah satu judul foto itu Senja di Atas Kostan. Temanku yang melihat foto itu langsung tertawa,
"Astaga Ber, puitisnya kau."
"Puitis darimana," balasku sambil nyengir kuda.

Kebiasaan unik ini juga berlangsung kalau aku menunggu jam praktikum. Sambil ngobrol dengan kawan, aku suka curi- curi pandang menatap langit. Ada salah satu teman sekelasku suka memperhatikan kebiasaanku ini, namun ia gak berani menegur ketika mataku sudah menatap langit (apakah aku bener- bener terlihat serius saat itu?).

Aku seakan menemukan kesejukan ketika menatap langit (yang belum terik matahari tentunya :D) Bagiku, langit memiliki keunikan sendiri.Tinta uniknya suka berubah dari waktu ke waktu. Ada biru jernih, putih bak kapas, kelabu di kala hujan. Saat senja, lembayung mendominasi langit dikelilingi perpaduan warna lainnya. Tidak hanya itu, beberapa perhiasan ikut mendominasi. PeranNya dalam melukis langit membuatku terkesima akan goresan tinta yang nyata.

sebelumnya aku udah pernah posting ini, tapi ku edit lagi.
sebagai salam penutup, akan kutunjukin salah satu foto dari menikmati langit ^_^




Rabu, 12 Februari 2014

Ketika Kamu Gak Ada

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Ketemu lagi dengan saya, admin dari blog Random. Yap... udah lama banget gak mosting dan berbagi cerita di blog dikarenakan laptop kesayanganku yang setia menemaniku untuk membuat tugas, membuat postingan blog hingga suka dijadiin curhatan harus berada di 'rumah sakit.'
*Iklan
Q: Jadi kamu nulis pake apa Ber? :p
A: Pake laptop dong. Laptop saudara -_-

Hari ini sesuai judul di atas, aku mau jabarin sekaligus cerita pengalaman manisku ketika aku harus berpisah dengan laptopku dalam waktu yang sangat lama.