Selasa, 13 Oktober 2015

Waiting Room

Liburan semester kemarin kuputuskan untuk liburan ke kota A, tempat salah satu kakakku yang sudah berkeluarga. Pergi ke kota A adalah salah satu impianku yang akhirnya terwujud, dengan mengandalkan uang tabungan (meski ada sedikit problem), serta dikeluargaku hanya aku yang belum pernah ke rumah kakakku itu. Tentu saja semakin semester atas, aku belum tentu memiliki waktu untuk mengunjunginya.

Di ruang tunggu, aku duduk berseberangan dengan seorang wanita yang kira- kira umurnya lebih tua dari kakak sulungku. Ia sedang menggendong bayinya. Beberapa ibu di sekitar ku pada bertanya tentang wanita itu.

"Anaknya lucu....."
"Umurnya berapa bu...."
"Mau kemana bu...."

Dengan ramah wanita itu menjawab pertanyaan para ibu disekitar ku.

Aku hanya diam memperhatikan. Saat aku melihat wajahnya, benar- benar menenangkan. Benar- benar wajah seorang ibu, pikirku. 

Kemudian suasana hening kembali. Para ibu yang tadi antusias bertanya kini diam melanjutkan aktivitas masing- masing. Wanita tadi sekarang menimang anaknya. Aku menoleh ke arah luar. Beberapa kali terdengar suara jadwal penerbangan di ruang tunggu. Para pemudik benar- benar khidmat setiap kali suara itu terdengar, berharap kali ini adalah jadwal penerbangannya.

"Ah.. mbak.."

Aku menoleh ke arah suara. Ternyata wanita tadi, kini sedang tersenyum kepadaku.
Aku pun membalasnya.

"Mau kemana mbak?" tanyanya. Aku pun menjawab. Ternyata tujuan kami sama, hanya beda penerbangan. Apalagi kami baru tau kalau kami sama- sama orang Sumatera dengan provinsi yang bertetanggaan.

"Anaknya lucu ya bu. Umurnya berapa?" Sebenarnya aku bingung mau memanggilnya mbak atau ibu. Wanita itu sepantaran dengan kakak- kakakku, tapi aku ngerasa aneh aja kalau kita sama- sama manggil mbak, sedangkan ia sudah jelas telah berkeluarga. Makanya aku memanggilnya ibu. Dan tentu ia tak keberatan.

"Dua bulan," jawabannya membuatku terkesima.

Percakapanpun mulai mengalir, aku memperkenalkan diri sebagai mahasiswa semester lima, yang disambut dengan senyum hangat sambil ia berkata,

"Kalau saya maba (mahasiswa baru) mbak. Tapi S-2."

Yang membuatku makin terkesima lagi ialah kisah keluarganya. Apalagi saat- saat ia sedang hamil memasuki trimester akhir sedangkan saat itu ia harus ujian.

"Jadi selama hamil ibu gak cuti?" Tanyaku kaget
"Bagaimana mau cuti mbak, saat itu saya sedang ujian. Alhamdulillah saya tetap menjalaninya dengan enjoy. Beberapa hari selesai ujian, saya melahirkan."

Ya Allah,ini  benar- benar perjuangan seorang ibu sekaligus mahasiswa.

Kemudian wanita tersebut bercerita tentang kehidupannya, termasuk menjawab pertanyaanku tentang perbedaan S-1 dan S-2.

Suara si operator jadwal penerbangan memecahkan percakapan kami sekaligus memisahkan kami. Wanita tersebut mohon pamit.

"Hati- hati Bu," Kataku lalu disambut lagi dengan senyum hangatnya.

Bahkan dalam keadaan mudik sekalipun tetap saja ada pelajaran yang akan kau dapat, seakan- akan pertemuan memang diciptakan salah satunya untuk itu. Tinggal bagaimana kau menyaring pelajaran itu untuk mengambil hikmahnya. ~BR



Minggu, 02 Agustus 2015

Balada Takut

"Takutlah hanya kepada Allah."
Aku menganggukkan kepala. Ya, Al-Quran sendiri juga tercantum disitu.
Lantas apa untungnya aku menyimpan ketakutan selain kepada Allah, bahkan fobia yang aneh yang seharusnya gak perlu kutakutkan, meski kata orang "ah masih manusiawi kok."
Rasa gengsi yang harus kubuang yang berujung pada su'udzan..
Bukankah, kita sebagai mahasiswa sedang berada pada tahap belajar.


02082015
Sebagai pengingat tentang kejadian tadi
agar aku gak lagi takut disu'udzankan orang, yang padahal belum tentu juga mereka su'udzan atas kesalahanku.

Rabu, 08 Juli 2015

08072015

Satu pilihan tak terduga, kadangkala menjadi pilihan terbaik. Campuran rasa senang, bingung dan apapun itu menggumpal dipikiranmu. Gumam kecil, yang mengharuskanmu bahwa 'ada' yang paling membuat untuk keluar dari zona nyaman..

Rabu, 01 Juli 2015

Timer


Lilypie Assisted Conception tickers

Anggap saja menunggu itu bukan hal membosankan
melainkan tentang hal menantikan.
Debar yang men(y)enangkan.