Jumat, 30 Januari 2015

Aku dan Mereka

Punya kakak seperti mereka membuatku benar- benar bersyukur. Mereka adalah anugerah terindah yang dititipkan Allah melalui kedua orangtuaku. Walaupun usiaku sangat jauh dari ketiga saudaraku, gak membuatku minder sama teman- teman lain, yang jarak usianya sama saudaranya masih dekat. Justru dengan usia yang terpaut jauh (15,13,dan 10 tahun), Allah membuatku banyak bersyukur bahwa aku dididik, disayang sama orang dewasa, dengan pembawaan yang dewasa pula. Melalui mereka, Allah juga mengajarkanku tentang hidup dewasa. Mengapa bisa? Iya, aku merasakan kebersamaan dengan mereka di rumah yang sama hanya sampai sd kelas 6. Memasuki smp kelas 1, kakak pertamaku menikah; smp kelas 3, kakak keduaku; dan sekarang, satu- satunya kakak lekakiku akan menikah. Di usia awal smp, aku gak lagi ngerasain yang namanya 'berantem hal sepele.' Itu artinya, aku harus mengurangi sifat manjaku akan mereka. Tentu saja, mereka kan harus mengurusi keluarga mereka juga :)
Ingat masa kecil, sama mereka suka berantem, cerita, usil, suka diam- diam ambil makanan mereka, sampai aku digendong dipunggung (yang ini sama kakak lelakiku).
Dari aku kecil, secara tidak langsung mereka mengajariku tentang hidup dewasa kelak. Mereka bilang bahwa aku harus selalu siap dengan lika- liku yang ada. Dan kini aku paham maksud mereka~

BR

Sabtu, 17 Januari 2015

Kau (lagi) ?

Beberapa hari lalu, aku sempat menggalau tentangmu. Enggak, lebih tepatnya aku telah berkali- kali menggalau tentangmu. Berkali- kali aku melihat perubahanmu terhadapku ~sebagai temanmu~ .

Aku sudah berkali- kali berprasangka baik, namun kali ini aku benar- benar kecewa.

Kita adalah teman. Kau adalah orang ramah.  Mirisnya, kita susah untuk bersapa.

Kau adalah orang yang susah menyapaku, sedangkan aku adalah orang yang susah untuk berbasa- basi denganmu.

Bukan tipikalku  untuk bebas berekspresi, menunjukkan diri bahwa aku adalah temanmu, kau adalah temanku. Hanya, aku punya cara tersendiri untuk menunjukkannya. Yang mungkin tak terduga oleh orang.

Aku memang butuh waktu lama untuk nyaman. Bukan berarti aku gak pernah merasa nyaman. Aku sering kesusahan menemukan topik cocok untuk berbasa- basi.

Bukan tipikalku untuk berbasa- basi. Aku gak terlatih untuk itu. Namun bukan berarti pula aku gak mau berbasa- basi.

Mungkin ini teguran untukku. Seharusnya aku menganggap seorang teman sebagai sikap sederhana. Sebaik dan seramah  apapun dia, dia jugalah makhlukNya.

Namun Allah tetap Maha Baik. Ia masih menyadarkanku bahwa aku masih mempunyai teman- teman, sahabat. Yang memahami kekuranganku. Berbicara dengannya, membuatku semakin bersyukur bahwa mereka ada.

Kegalauanku tentangmu pun sirna.

Salahku, yang tidak bisa berbasa- basi denganmu, teman.

Kau kecewa?  Iya, aku paham. Sekali lagi kukatakan, aku bukan orang yang mudah berekspresi untuk mengatakan “aku tau kau kecewa denganku, sebagai temanmu.”

Disisi lain, aku tetap mengakui ‘aku’ yang sebenarnya.

Maka kubiarkan dulu untuk kau sendiri. Karena kau bukanlah orang yang mudah mendengarkan.

Semoga kau paham.

Salam,
Dari teman (kurang) akrabmu,
BR

Kamis, 15 Januari 2015

Tentang Semua

Dari aku kecil, Allah sudah memberikanku orang- orang bermasalah. Namun diantara itu semua, Allah tetap Maha Baik.  Allah masih  memberikanku orang- orang  tak terduga, yang membuatku merasa betapa berartinya mereka untukku, betapa berartinya aku diantara mereka.Namun, jumlah orang- orang bermasalah ini tersembunyi. Sehingga mau tak mau aku harus terbiasa berada di sekitar mereka.

Aku pernah bercerita di blog betapa suramnya masa- masa sd ku. Sehingga memasuki masa smp, aku sengaja menghilang dari mereka. Bukan untuk menghindar, tapi merubah keadaan. Selama empat tahun aku berintropeksi diri, apa yang salah. Aneh sekali, kok anak sd sudah berintropeksi diri?  Begitulah, ketika keadaan berubah.

Miris, padahal gak pernah ngeganggu, selalu bersikap baik. Timbal baliknya berbeda.

Delapan tahun aku menghilang dari mereka. Akhirnya terdengar kabar bahwa mereka mencariku kemana- mana. Mengapa? Bukankah betapa bencinya mereka terhadapku? Kini aku tau alasannya. Iya, disini aku gak salah. Pengakuan salah satu dari mereka, ada satu hal yang kumiliki, yang membuat mereka iri. Dan itu gak mungkin kuceritain disini.

Memasuki masa smp, kehidupan sosialku mulai membaik. Tiba- tiba ada satu orang berulah. Membuatku kecewa. Selama ini kuanggap teman, rupanya realitanya m.e.n.a.k.u.t.k.a.n.k.u. Iya, disini aku gak salah. Aku sudah tau alasannya dari orang itu dan teman- temannya. Dan itu gak mungkin kuceritain di sini.

Masa sma, kehidupan sosialku lebih membaik. Tapi tetap aja, aku harus menerima orang- orang bermasalah. Jumlahnya kali ini lebih banyak. Miris, padahal gak pernah ngeganggu, dekat mereka pun enggak. Tapi mengapa orang- orang seperti itu masih ada disekelilingku?

Di masa sma juga, kelas tiga. Selama tiga tahun, aku akrab dengan salah satu teman. Entah mengapa tiba- tiba ia berubah. Padahal ia teman yang baik. Miris, dulu akrab, sekarang renggang. Selama satu semester kita flat .

Suatu hari jam pelajaran kosong akhirnya aku memberanikan diri bertanya:
“Ef (samaran), aku mau ngomong boleh?”

Dia mengangkat kepala. Jelas banget ekspresi kagetnya. Walau begitu ia berusaha menutupi dengan menganggukkan kepala.

“Aku salah apa denganmu?”

Ef mengernyitkan dahi.

“Aku ngerasa punya salah denganmu. Aku minta maaf.”

“Ber,” Ia akhirnya mulai berbicara “Itu cuma perasaanmu.”

Teman- teman disekitar kami, ~ Iya, aku ngomongnya di dekat mereka juga~ bertanya,

“Hei, kalian ada masalah apa? Ada apa Ber?”

“Tidak,” jawabku “Aku ngerasa ada yang salah denganku. Tapi aku gak tau apa.”

“Itu karena kalian udah lama gak ngobrol bareng,” jawab mereka. Entah bermaksud menghibur atau apa..

“Baiklah,” aku mengalah. “Tapi aku benar- benar minta maaf.”

Ef hanya mengangguk kecil.

Dan semenjak saat itu, kita kembali akrab. Entahlah, apa yang salah denganku. Dia gak pernah bilang kesalahanku. Aku sudah berintropeksi diri. Hasilnya zonk. Sampai sekarang aku gak tau.

Aku menceritakan permasalahanku dengan dua sahabatku di waktu dan tempat berbeda. Mereka memberikan jawaban konyol, namun anehnya pendapat mereka sama. Mulanya aku gak mengakui, namun perlahan- lahan aku paham. Apa lagi aku melihat realitanya sendiri (Iya, disini lagi- lagi aku gak salah). Tentang apakah itu? Nah, aku gak mungkin menceritakannya di sini

Sekarang aku mendapatkan ujian lagi. Seorang teman, yang benar- benar baik, ramah, tiba- tiba berubah. Itu ujian terberatku. Selama sd hingga sma, aku berhasil mengatasinya. Yang ini? Aku benar- benar jatuh bangun. Benar- benar gak tau atas kesalahanku.

Berkat pengalamanku sebelumnya, aku menjadi lebih peka akan perubahan orang disekitarku, sekalipun ia belum menjadi teman akrabku.

Tapi yang ini? Astaghfirullah, entah mengapa kali ini aku benar –benar kecewa. Gak tau ke siapa. Ke aku sendiri, atau ke orang itu yang tiba- tiba berubah. Terlihat sekali ia benar- benar membenciku. (Aku gak akan dan gak mau menceritakan detailnya). Kali ini meminta maaf seperti caraku di sma itu udah gak mempan.

Aku mendongakkan kepala, bergumam:

 Aku harus melaluinya lagi.

Aku tetap berhusnuzan sama Allah dan keadaan saat ini. Hikmahnya? Aku percaya suatu saat aku akan paham.

Sabtu, 10 Januari 2015

Kau

Kau,
indah,
nyata.
Maka dari itu kuambil.
Namun mengapa semakin lama kau lusuh,
rapuh?
Maaf,
seharusnya kubiarkan saja kau berada di tempatmu, 
yang lebih indah, terjaga
atau
kuambil, kujaga lalu kurawat sebaik- baiknya

BR

#bunga
#gak bermaksud buat puisi