Sabtu, 11 Oktober 2014

Anak- Anak di Persimpangan Sawah

Sudah beberapa hari ini perasaanku kurang bagus. Hidup dewasa kadang gak menyenangkan seperti dipemikiranku dulu. Di sini aku benar- benar dilepas layaknya burung kecil yang baru lahir, yang harus segera belajar terbang untuk hidup mandiri. Tapi aku tau, siklus hidup seperti ini gak mungkin ku hindari. Nikmati saja, meskipun beberapa orang sedang berburuk sangka padamu sekalipun. Itu yang kurasain sekarang. Kecewa sekali rasanya ketika kamu dinilai ‘gak baik’ oleh temanmu sendiri, tanpa berbicara apa- apa, hanya menampilkan ekspresi apa adanya – yang bisa dengan mudah segera kutangkap makudnya-  Tapi disisi lain aku memakluminya, kita memang bukan teman dekat – wajar saja penilaian terhadapku itu salah. Dari kita gak ada yang salah kok. Kita, hanya belum saling mengenal dan memahami saja.

Badmood akan kejadian itu belum membuatku benar- benar pulih. Maka sepulang dari kuliah, aku menyempatkan diri melewati sawah- sawah dekat kost. Aku sengaja berlama- lama di sana. Mandangin orang- orang bermain futsal di lapangan sebelah sawah, bercerita dengan seorang ibu yang kebetulan berada di sana, tersenyum melihat seorang kakek duduk dikelilingi padi, ia menggerakkan orang- orangan sawah, membuatku mendongak ke atas, terpesona  liatin burung- burung terbang membentuk formasi yang indah.

Tingkahku yang berdiri lama di sana membuatku diperhatikan oleh sekelompok anak SD. Dan aku sadar benar akan hal itu.  Sudah puas liatin sawah beserta ’ isi kegiatannya’ aku berjalan menuju kost yang tinggal beberapa meter lagi. Aku harus melewati  satu- satunya jalan yang sedang penuh anak- anak SD tadi.

Dari situ percakapan dimulai,
“Mbak….” Dengan ramahnya mereka menegurku.
Aku menoleh. Tersenyum. Sayangnya saat itu aku sedang memakai masker. Mungkin hanya garis mataku yang sedang terlihat bahwa aku sedang tersenyum.
“Ada apa dek?” tanyaku dengan ramah.
Salah seorang dari mereka memberikan buah kecil yang asing untukku.
“Ambil saja mbak,” kata mereka.
Aku mengambil satu dari tangan yang ingin memberikanku buah itu.
“Wah.. buah apa ini dek?”
“Telo mbak,” rasanya suara dikupingku terdengar seperti itu (?)
“Bisa dimakan dong, kirain ini yang untuk dilempar- lempar itu lohh” aku bercanda sambil meraktekin gerakan setengah melempar.
“Eh.. Nggak dong mbak. Itu bisa dimakan kok mbak,” jawab mereka diselingi tawa. Sangat ramah.
“Ambil saja lagi mbak,” Ia memberikan satu buah lagi untukku. Sekarang jumlahnya pas dua di tanganku.
“Terima kasih. Nah, sekarang selamat bermain ya dek.”
“Iya mbak,” jawab mereka kompak.
Baru setengah melangkah mereka bertanya,
“Kuliah dimana mbak?”
Aku menyebutkan tempat kuliahku. Setelah itu kami melambaikan tangan. Berpisah.

Badmoodku seketika hilang. Bukan karena dikasih buah secara gratis, tapi tawa yang mereka tularkan kepadaku. Tawa yang ramah, menyenangkan, tawa masa indah anak- anak. Membuatku menyadari bahwa masih ada hal- hal menyenangkan di dunia ini.
Kebahagiaan itu memang perlu ditularkan ya sob J

Sabtu, 20 September 2014

Lembayung Sore Itu

Beberapa orang berlalu lalang di dalam bus sore itu,
kemudian hanyut dalam pikiran masing- masing,
sebagian lain terlibat dalam percakapan ringan.
Kau adalah arus waktu,
beberapa kali lembayung semakin memekatkan dirinya sebelum lenyap,
Kemudian,
orang- orang yang memenuhi bus sore itu
berlalu lalang menuju peraduannya masing- masing

Jumat, 19 September 2014

Ada yang Mengganjal

Akhir- akhir ini aku merasa memiliki suatu keinginan, tapi gak tau apa yang benar- benar kuinginkan. Aku berusaha semaksimal mungkin menjalani aktivitas seperti biasa.
Tapi itu tadi, ada yang kurang, ada yang mengganjal, pikirku.
Beberapa deadline tugas bertumpukan di hadapan.
Semaksimal mungkin ku kerjakan.
Beberapa jam kemudian, aku menatap dari jendela kamar, menatap sejauh- jauhnya, apa yang kira- kira ada di sana.
Tapi itu tadi, ada yang kurang, ada yang mengganjal, pikirku.
Sedetik kemudian, sambil beristirahat, aku menerka- nerka,
"kejadian apa yang akhir- akhir ini aku lewatkan?"
Mulai bosan dengan pertanyaan aneh itu, aku pun melanjutkan aktivitasku lagi

Suatu hari, salah satu teman sekelasku duduk disampingku. Ia termasuk orang yang gak banyak bicara. Aku hanya tersenyum menyapa. Tanpa kuduga ia membalasnya dengan percakapan. Mulanya percakapan ringan, namun saat pertengahan, ia memberikanku sebuah masukan.

Aku menganggukkan kepala.  Aku sudah lama gak berbicara banyak sama orang. Berbicara sih.. tapi isi percakapannya seakan datang lalu pergi lagi..
Tapi hari itu, kami berbicara apa saja ~ bukan gosip~ sampai- sampai ia memberikanku masukan berharga untuk deadline tugas.

Ini dia yang dari kemarin membuatku serasa ada yang mengganjal:
"dari kemarin- kemarin, kamu sudah bersosialisasi, tapi kamu belum meresapi makna sosialisasi positif itu."

Ahh.. karenamu.. terimakasih ya kawan...

Kamis, 14 Agustus 2014

Antara Aku, Cinta, dan Tulisan

Assalamualaikum Wr.Wb

Dear sobat,

Ketika kau melihat c.i.n.t.a,
kau tau sob, dulu aku terheran- heran mengapa ‘cinta’ menjadi topik termudah terwujudnya inspirasi. Apalagi lagu You’re the Inspiration- nya Chicago turut mewarnai topikku.

Beberapa jawaban yang kuanggap konyol perlahan menyembuhkan rasa penasaranku~ meski belum seluruhnya. Syair misalnya, yang kebanyakan bertema cinta, mungkin ia adalah tema yang mudah diciptakan? Dibandingkan dengan tema lain yang menurut mereka lebih ‘memberatkan’ untuk dipikirkan menjadi untaian kata? Tentang politik misalnya. Ah, padahal banyak juga yang berhasil menciptakan untaian kata diluar topik cinta.

Waktu itu ketika aku masih remaja, aku menemukannya, dia yang membuat dunia seakan berhenti beberapa detik. Begitu kata mereka. Lucu sekali kedengarannya kau mendengar kiasan itu. Tapi jika kau yang mengalaminya sob, aku yakin kau perlahan mengiyakannya juga. Aku yang menyukai keramahannya dari balik dinding…

Semenjak itu, untaian kata mengalir deras disetiap langkah. Aku seakan tak pernah kehabisan ide untuk menulis tentangnya. Aneh sekali, bak sihir.

Namun ketika ia menghilang, perlahan tulisan- tulisan tentangnya mengalir tidak sederas dulu (karena aku suka menulis maka aku tetap melanjutkannya walaupun dengan topik lain). Memang dari awal aku hanya penggemar rahasia, jadi tulisan- tulisan tentangnya aku buat untuk disimpan di dalam kotak yang makin lama berdebu. Setiap hari aku membersihkan kotak itu. Ku rawat dengan sebaiknya dalam keadaan tetap tertutup rapat. Di waktu yang tepat aku akan membuka lalu menguncinya kembali. Isinya? Hanya Allah yang tau apakah ia akan berupa tulisan lama atau yang lebih baik lagi.

Ketika kau hobi menulis selalu ada ide yang bertebaran. Mungkin awalnya tulisan itu benar- benar berserakan. Tinggal bagaimana kau berusaha mengumpulkannya menjadi susunan yang indah. Dan mengenai topik cinta? Kita dikelilingi akan kecintaan terhadap manusia, alam atau apapun itu. Tapi hakikatnya tetap Rabb dan utusanNya lah yang utama dan abadi.

Selamat menangkap makna ini ya sob ;)

Wassalamualaikum Wr.Wb
Salam dari sobatmu,
BR

Nb: Mungkin ada yang tak sependapat dari tulisanku. Tapi perbedaan itu indah kan?